About Us

Cara menuju hidup sehat adalah beralih dari pertumbuhan ekonomi kuantitatif ke kualitas hidup, makanan dan minuman, air dan udara. Dengan beralih dari arogansi keinginan ke rasa cukup akan kebutuhan, dan dari keserakahan ke rasa terima kasih.

- Satish Kumar

Who We Are


Proyek pengembangan hutan tanaman pangan ini dirintis oleh sekelompok individu yang tersentuh oleh kondisi alam dan manusianya yang semakin memprihatinkan. Sebagai sebuah kelompok tani, kami berupaya untuk menanggulangi berbagai isu seperti isolasi sosial, pengikisan/pengrusakan habitat, minimnya aksesbilitas dari makanan alami yang bersumber secara lokal dan untuk membantu menyembuhkan lahan dan industri pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan secara intensif. Jantung dari aktifitas ini berada di bagian misinya (lihat misi kami).

Kami ingin berpartisipasi dalam mengembalikan rasa kebersamaan dalam bermasyarakat dengan menciptakan hub komunitas dalam bentuk hutan tanaman pangan, yang tidak hanya untuk merestorasi lanskap yang gagal, namun juga untuk merestorasi rasa kebersamaan dan keseimbangan dalam kehidupan antara manusia dengan manusia lainnya dan juga manusia dengan alam semesta dan seluruh makhluk hidup di dalamnya; dan untuk memperbaiki segala bentuk kekurangan yang kita miliki dalam lingkup dunia yang justru semakin menggiring kita untuk memutuskan hubungan dengan sesamanya dan alam di sekitarnya.

Belajar untuk mengenal dan memahami diri kita sendiri, dengan memberikan rasa tujuan dan harga diri serta penghormatan dan penghargaan terhadap diri dan seluruh makhluk hidup melalui aktifitas untuk menanam, memelihara dan memanen tanaman pangan dengan cara-cara yang benar dan baik, menjaga hubungan dengan masyarakat tempat dimana kita hidup bersama dengan membawa orang lebih dekat bersama dalam ruang yang aman dan nyaman dalam mengembangkan tujuan bersama, dan hubungan yang kita miliki dengan alam semesta dan seluruh makhluk hidup lainnya dengan menghidupkan kembali rasa hormat, menyayangi dan menghargai terhadap berbagai bentuk ekosistem kehidupan dunia yang berada di sekitar kita.


What We Do


Proyek Hutan Tanaman Pangan membutuhkan lahan yang dapat digunakan secara intensif, dan juga bantuan masyarakat setempat dimana kami akan menanam dan mengembangkan hutan tanaman pangan.

Hutan pangan adalah sebuah sistem desain berlapis yang akan memberi makanan bagi bumi serta seluruh penghuninya. Pemeliharaannya sangat minim dan bekerja sepenuhnya dengan sendirinya secara berkelanjutan sebagai sistem sirkulasi yang tertutup (yaitu bebas dari limbah). Dari tanah hingga habitat di pepohonan dan semak, sistem ini akan bekerja selaras dengan dunia yang alami.

Setelah hutan tanaman pangan melewati musim pertamanya, mereka akan tumbuh dengan sendirinya menjadi habitat liar yang berupa pohon buah dan kacang-kacangan, sayur buah, sayur daun, tanaman merambat dan tanaman rimbun, yang dapat dinikmati seluruh masyarakat! Tanaman ini tidak hanya tersedia bagi mereka yang mampu membeli makanan alami yang terkesan mewah, tetapi untuk siapa saja dan untuk semua orang.

Dalam proses mewujudkannya, maka prinsip yang pertama kali harus dipahami adalah bahwa intisari dasar dari sirkulasi ekosistem dan habitat alami dari hutan tanaman pangan adalah integrasi elemen tanah dan air serta energi terbarukan. Maka dengan penciptaan ekosistem tanah subur melalui sistem penguraian bahan-bahan alami yang baik dan benar dan manajemen sirkulasi air (aquaculture) dan energi terbarukan (renewable energy) adalah bagian dari aktifitas utama dalam proses pengembangan hutan tanaman pangan ini.

Hutan Pangan adalah integrasi pertanian, perkebunan, peternakan, dan perhutanan yang berbasis  permakultur dimana terdapat berbagai macam dan jenis tanaman dan satwa yang dapat dikelola sendiri secara sederhana dan dengan pemeliharaan yang minim. Secara lebih praktis disebut 'agroforestri', ini adalah sistem yang didasarkan pada ekosistem hutan, yang menggabungkan pohon buah dan kacang, semak, tumbuhan dan tanaman merambat, dan berbagai macam tanaman sayuran yang dapat dikonsumsi langsung yang bermanfaat bagi manusia, dengan proses aktifitas yang bekerja selaras dengan alam. Kami akan bekerja dengan masyarakat untuk membangun hutan pangan di Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk membantu masyarakat dan diri kita sendiri dalam menemukan kembali hubungan mereka dengan alam semesta beserta seluruh makhluk hidup di dalamnya, dan mungkin menemukan dirinya masing-masing seiring dalam proses perjalanannya.


Image

Lapisan Hutan Pangan

Hutan tanaman pangan berintegrasi dan berkaitan dengan disiplin dari ilmu permakultur, pertanian, ekologi, biologi, dan ilmu kehidupan alami lainnya.

Image

Lapisan Kanopi

Terdiri dari pohon buah-buahan dan pohon kacang-kacangan yang tinggi.

Lapisan Sub Kanopi

Terdiri dari pepohonan yang tumbuh dalam berkas matahari yang menerobos lapisan Kanopi.

Lapisan Semak-semak

Terdiri dari tanaman semak buah seperti kismis dan beri.

Lapisan Herba

Terdiri dari tanaman herba dan jamu, tanaman pendamping, tanaman pencinta lebah dan unggas.

Lapisan Rizorfer

Terdiri dari tanaman akar seperti wortel, kentang, dll.

Lapisan Penutup Tanah

Terdiri dari tanaman yang dapat berfungsi sebagai mulsa hidup dan dapat dikonsumsi (seperti berbagai jenis jamur).

Lapisan Vertikal

Terdiri dari tanaman yang merambat dan mendaki yang dapat dikonsumsi.

Zonasi Hutan Pangan

Dalam hutan pangan berbasis permakultur, kami membagi desain lanskap menjadi beberapa zona sesuai dengan tingkat perhatian yang dibutuhkan dari setiap area.

Image

Zona 0

Rumah (Workshop), area tempat tinggal, produksi dalam ruangan (kecambah/fermentasi) dan pengolahan makanan, limbah, dll.

Zona 1

Area di luar zona 0 yang membutuhkan pengamatan, perawatan, dan panen teratur. Seperti tanaman sayuran, ternak ayam/itik/bebek, dll.

Zona 2

Area yang dikelola kurang intensif tetapi dengan hewan yang membutuhkan perhatian harian misalnya. Lebah, kelinci, peternakan cacing, peternakan siput. Tanaman kebun.

Zona 3

Area untuk tanaman musiman seperti misalnya. jagung, gandum, beras, labu, bambu, dll.

Zona 4

Area bagi hewan swasembada, Tanaman liar yang bisa dikonsumsi (mis. kacang-kacangan, buah-buahan asli), pohon kayu untuk bahan bakar, dll.

Zona 5

Area alami, area yang jarang dikunjungi. terkait dengan koridor satwa liar yang berdekatan, yang berperan penting dalam mengurangi resiko bencana seperti kebakaran/polusi/kekeringan/badai.
Begitu kompleksnya permasalahan di dunia kita saat ini yang semakin meningkat, ternyata solusinya, dengan memalukannya, masih sederhana.
Bill Mollison