Gaya Hidup Permakultur

Banyak cara mudah memulai usaha mengurangi dampak buruk terhadap bumi, dan meningkatkan kualitas hidup. Mulai dari membaca buku tentang penyehatan lingkungan, pertanian organik dan buku permakultur, menghadiri lokakarya, mengikuti kursus dan pelatihan, atau terlibat menjadi relawan dalam proyek-proyek lokal. Beberapa daftar berikut ini adalah beberapa gagasan aksi, tapi tidak terbatas pada, yang dapat digunakan untuk ikut berperan dalam mengurangi dampak buruk terhadap bumi. Permakultur bukanlah mengikuti hanya satu aturan, yang mungkin saja tidak relevan bagi konteks kita. Yang paling penting adalah menyadari kondisi kita hari ini dan membuat rencana aksi yang tepat bagi dan dalam konteks kita.

Sadarilah bahwa kita adalah apa yang kita makan.

Tindakan yang bisa dilakukan adalah:

  • Mengharamkan diri makanan dan minuman denganpengawet, perisa buatan, penyedap rasa (MSG atau sejenisnya), pewarna, pemanis atau gula buatan, minyak sayur, dll.
  • Mengurangi makanan tidak segar dan makanan olahan (processed food).
  • Menghindari kombinasi tidak sehat pada makanan seperti menghindari daging kambing berkombinasi dengan ikan. Dan menggunakan kombinasi seimbang. Makan dari sumber, ditumbuhkan lokal, mendukung petani, atau dengan skema pemberdayaan (box schemes), diperdagangkan dengan adil, dll.
  • Makan dari sumber yang jelas, ayam yang betul-betul ayam (ayam kampung), diberi pakan alami, dipelihara dengan kasih sayang, disembeli secara etis atau beradab
  • Memakan sesuai proporsi kebutuhan tubuh, tidak kekenyangan, dan strategi diet yang baik, dari sayuran dan buah-buahan, menjaga keasaman tubuh, menjaga keseimbangan nutrisi.
  • Melakukan puasa pada hari-hari tertentu, secara rutin, terus menerus.
  • Memilih makanan olahan slowfood, makanan mentah (raw food) dan makanan bernilai tambah (probiotics).
  • Mengganti obat-obatan menjadi jamu-jamuan dan herbal, apabila kondisi sakit. Bekerja sama dengan penghusada yang menggunakan pendekatan tradisional atau alamiah.

Sadarilah bagaimana kita bepergian.

Tindakan aksi diantaranya:

  • Menggunakan angkutan umum atau kendaraan milik bersama (komunitas). Catat jadwal bus, angkot, kereta api dan kapal laut, serta fasilitas kendaraan publik lainnya yang ada.
  • Bersepeda atau menggunakan gerobak atau kereta kuda, berjalan kaki lebih sering.

Sadarilah bagaimana rumah dan kebun kita.

Tindakan aksi meliputi:

  • Mengatur peredaran energi dan udara di rumah dan melakukan audit energi di rumah.
  • Tidak menggunakan AC
  • Mengubah sumber listrik menjadi sumber listrik terbarukan dari penyedia listrik ekologis setempat atau memproduksi secara mandiri.
  • Mengembangkan listrik lokal bersama masyarakat.
  • Menggunakan kulkas alami
  • Merancang dan menerapkan sistem panen air hujan untuk pengairan kebun.
  • Merancang dan mengaplikasikan wadah pengomposan dan wadah kompos cacing.
  • Menjadi aktifis daur ulang, terlibat di pasar barang bekas!
  • Tidak berlebihan memiliki baju, gadget, gear, alat-alat rumah tangga dan alat kerja, dll
  • Mendesain ulang kebun dan pohon buah serta pagar hidup, bumbu dan sayuran.
  • Mengubah bahan kesehatan, sabun mandi, sabun cuci, sabun lantai, cat dinding, pernis kayu, pasta gigi, sabun rambut, pembalut wanita, menjadi bahan nontoksin.
  • Ketika membeli barang-barang elektronik memilih yang hemat energi dan berumur panjang.

Sadarilah sumber harta kita dan bagaimana kita mengelola dan membelanjakannya.

Tindakan aksi meliputi:

  • Menjadi konsumen sadar yang berbelanja secara etis โ€“ membaca label dan meneliti alternatif.
  • Membeli hanya yang diperlukan, tidak berlebih-lebihan.
  • Mencari subsitusi tanpa membeli bila perlu (meminjam, membuat sendiri, barter, dll)
  • Menggunakan mata uang lokal yang adil, menggunakan uang perak, emas atau uang benih (biji beras, sorgum, lada, kopi, dll).
  • Mengembangkan asuransi keselamatan yang adil, dana pensiun (pesangon) yang berkeadilan, dan perlindungan bersama yang berdayaguna dan penuh gotong royong.
  • Menginvestasikan kepada masyarakat dan saudara melalui kerjasama adil dan bebas riba.
  • Terlibat dalam kelompok usaha bersama (KUBE) atau kelompok swadaya berdaya masyarakat yang melakukan investasi bergilir (revolving fund) dan berbagi pendapat untuk meningkatkan pendapatan dan kewirausahaan.
  • Menggunakan jasa keuangan yang etis dan dikelola komunitas seperti koperasi (termasuk koperasi simpan pinjam), atau Baitul Mal setempat yang tidak menggunakan sistem berbasis Riba.

Oleh Anam M. Alhabsy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *